Menari Bersama Kegilaan Joker – Part 1

Runtuhnya Jiwa yang Sudah Rapuh

Sebentar… saya jadi merasa sedikit depresi sebelum menulis review ini… tapi cuman sedikit aja og. Gak heran, Heath Ledger saking totalitasnya jadi Joker di Dark Knight-nya Batman (2008), sampai keblabasen meninggal karena pengaruh Joker yang sudah jadi kesehariannya.

fhiuh… #ambilnapasdalam

review film Joker 2019

Oke… pertama-tama, untuk kesekian kalinya diulang-ulang oleh siapa saja, seperti gambar postingan, ini bukan film superhero dan jangan bawa anak-anak buat nonton film Joker (2019) ini yes. 

Walaupun didampingi orang tua, belum karuan juga ortunya bisa menjelaskan dan mengobati trauma anak-anak setelah nonton Joker.

Selebay itu?

Iya

Karena inti film ini adalah, runtuhnya jiwa tokoh utama yang memang sudah rapuh sejak awal.

Sepanjang film, penonton akan “disiksa” oleh perkembangan karakter Arthur Fleck yang di awal sudah digambarkan mempunyai mental illness, sampai puncaknya terjun bebas menjadi karakter Joker.

Bisa dibayangkan kita naik roller coaster yang cuma jalan turun. Pelan-pelan turun sampai kemudian anjlok (ga nemu padanan kata Bahasa Indonesianya, cari aja di KBBI artinya ya). Hanya saja, roller coaster tadi bukan berupa action (dar der das des, u know lah, semacam itu). Tapi dalam wujud kereta kejiwaan si tokoh Arthur Fleck a.k.a Joker. Semacam kita sendiri yang mengalami mental breakdown di sepanjang film. Jadi membuat “tersiksa” penonton.

Seajaib itu memang filmnya.

Tidak lama sebelum Joker, juga ada film yang “menyiksa” penontonnya, yaitu “Midsommar”. Bakal saya bikin tulisan tersendiri setelah nonton lagi  yang versi Director’s Cut-nya.

Apa, nonton lagi? Bukannya tersiksa sepanjang film?

Nahini, poin ajaibnya lagi film-film ini. Seperti dulu “Batman The Dark Knight” (skor imdb-nya 9/10… edun euy),  yang saya tonton beberapa kali demi melihat aksinya Joker (Heath Ledger), Joker kali inipun pengen nonton lagi (kalo tagihannya udah pada cair 😀  ). Tampaknya selain saya juga bernada sama, pengen nonton Joker sekali lagi.

Setelah diperankan Heath Ledger, yang meninggal 6 bulan sebelum “Batman- The Dark Knight” rilils karena over dosis akibat depresi karakter Joker yang diperankannya (selengkapnya baca saja di ulasan Tirto ini ya), kemudian sempat muncul lagi karakter Joker di film “Suicide Squad” tahun 2016. Diperankan oleh Jared Leto, Joker malah digambarkan lebih ke sosok metroseksual dibanding tokoh sadis.

Akhirnya tahun 2019 Joker kembali ke khittahnya. Diperankan Joaquin Phoenix (dibaca: (h)Oakin Fenik), tak kalah totalitasnya sama mendiang Heath Ledger. Sebut saja diantaranya :

– Phoenix menurunkan berat badannya sampai 23,5 kilogram. Hasilnya memang cukup menyiksa penonton dengan kekurusannya itu. Mana si Phoenix ini sering shirtless pulak di film, bikin irritating liatnya.

– Joaquin Phoenix juga riset lama di rumah sakit jiwa, untuk belajar ketawanya orang yang mengidap “tawa patologis”. Penyakit mendadak ketawa sendiri tanpa bisa dikontrol. Dan Phoenix berhasil memerankannya dengan luar biasa di film ini.

Tawa patologis ini memang jadi salah satu yang ikonik dan jadi benang merah di film Joker. Pertama, untuk menjelaskan bahwa Arthur Fleck pernah dirawat di RSJ sebelumnya. Alasan kenapa dia masuk RSJ dijelaskan di tengah film, juga fakta bahwa penyebab Arthur masuk RSJ ternyata pernah dirawat di rumah sakit jiwa juga, yang kemudian fakta-fakta ini meruntuhkan kesehatan jiwa Arthur Fleck.

see?

Tokoh Joker tidak dibiarkan “mendadak gila”. Ada alasan berlapis yang membuat jiwanya rontok berkeping-keping dan berubah menjadi “King of Clown – Joker”. Todd Phillips sebagai sutradara, produser dan penulis naskahnya, benar-benar rapi membawa ceritanya step demi step transformasi kejiwaan Arthur Fleck menjadi psikopat terpopuler di dunia.

Pertamanya kita dibikin untuk bersimpati sama Arthur. Bagaimana tidak, scene dibuka oleh adegan Arthur sedang merias dirinya sendiri  untuk pekerjaannya sebagai badut di Haha’s Talent. Kemudian melatih senyumnya, tapi sambil meneteskan air mata.

Bagi para penonton Indonesia yang mudah tersentuh oleh menetesnya air mata, ini kan langsung membangkitkan simpati, siapapun dia… #eaak

Berikutnya, adegan ketika Arthur sedang kerja jadi badut, bawa papan diskon toko mau tutup, etapi malah dinakali anak-anak. Anak-anak, men … nakali Arthur dewasa!

Buat para penonton Indonesia yang mudah tersentuh oleh teraniayanya orang lemah dan tak berdaya, kan langsung membangkitkan simpati, siapapun dia… #eaak

Walau begitu, waktu pulang rumah, Arthur selalu bersikap ceria pada ibunya yang tinggal berdua sama Arthur. Arthur tetap mengurus ibunya yang sudah tua dengan riang gembira.

Buat para penonton Indonesia…

PLAK!

euh… tapi Todd Phillips tidak mengglorifikasi rasa simpati yang mungkin dialami penonton pada Arthur seiring berkembangnya cerita. Bagaimanapun juga, apapun sebabnya yang bikin simpati, si Arthur ini “sakit”, men. Dia orang yang perlu dirawat atau orang yang menyerah kalah pada kegilaannya… silakan didebatkan.

Karena memang masyarakat Gotham City tahun 1981, setting film ini, juga sedang sakit. Mungkin kalau digambarkan di jaman sekarang :

Arthur Fleck : jadi badut

Netijen eh SJW : Apaan sih, badut kok ga lucu?!  HAJAR!!

Arthur Fleck : jadi stand up komedian

SJW : Apaan sih, komika kok ga lucu?!  HAJAR!!

Jadi alurnya : jadi badut – dibully – jadi Komika – diundang tivi buat dipermalukan – ARRRGHHH! – DARR!

Contoh lain sakitnya warga Gotham saat itu. Tadi saya sudah cerita kalau scene awal, Arthur Fleck jadi badut pegangin papan “Sale” toko yang mau bangkrut, trus dinakali anak-anak. Nakalnya itu, papannya dibawa lari, dipukulkan ke Arthur sampe hancur, Arthurnya dihajar sama anak-anak itu. Sudah gitu, besoknya kata si bos Haha’s, kenapa Arthur kemarin kabur waktu kerja?

“Kan ngejar anak-anak yang njambret papan trus saya dihajar mereka, bos.” kata Arthur

“Ya udah, si toko minta papannya dibalikin!”

“Lhah, buat apa sih bos? Toko dah mau tutup ini.”

“Pokoknya papannya balikin ke mereka, atau potong gaji!”

“….”

Seperti kata Agatha Christie lewat Hercule Poirot, sekali orang melakukan pembunuhan, maka dia akan terbiasa membunuh.

Begitulah Todd Philips menggambarkan perkembangan karakter si Joker ini. Step by step, seperti saya tulis di awal. Ditunjukkan bagaimana Arthur kelepasan nembakin peluru di tembok dalam rumahnya, itu paniknya luar biasa.

Kemudian karena kejadian tawa patologisnya, dia dihajar sama 3 orang di kereta, yang mungkin karena sudah saking frustasinya Arthur selalu dipresekusi, akhirnya ditembaklah 3 orang itu. Trus, saking paniknya karena sudah mbunuh orang untuk pertama kalinya, Arthur lari tunggang langgang.

Sampai akhirnya dia masuk ke toilet umum untuk menenangkan diri. “Ternyata membunuh itu menyenangkan”, mungkin seperti itulah yang ada di pikiran Arthur setelah tenang. Tidak dikatakan, tapi ditunjukkan dengan adegan Arthur menari di dalam toilet umum itu.

Disinilah titik balik seorang Arthur yang kemudian menjadi ikon villain psikopat terpopuler. Di babak ini juga, film Joker sudah tidak segan-segan lagi menunjukkan kesadisannya. Walau ada adegan sadis, tidak sampai lever gore di film slasher ya. Jadi adegan-adegan sadisnya adalah untuk menguatkan cerita. Malah ada beberapa adegan yang sengaja tidak ditampilkan biar penontonnya penasaran.

Trus jadi timbul tanya, “Eh, cewek yang disukai Arthur dibunuh juga ga sih?”, atau di scene penutupnya “Eh, itu interviewer-nya dibunuh?”

Jadi ya, adegan sadisnya disajikan dalam takaran yang pas. Di satu sisi, bikin ngilu lihatnya. Di sisi lain, pas ga diliatin, malah bikin penasaran… haseum emang ni si Todd Phillips.

Oke, lanjut…

Eh tapi mending bersambung ke tulisan part-2 nya aja ya, biar ga kepanjangan di sini.

Monggo lanjut baca :

Menari Bersama Kegilaan Joker – Part 2

One thought on “Menari Bersama Kegilaan Joker – Part 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.