Menari Bersama Kegilaan Joker – Part 2

Lanjutan dari Menari Bersama Kegilaan Joker – Part 1

Di film Joker, ada beberapa “kegilaan” yang jadi penopang ceritanya. Diantaranya :

1. Tertawa Patologis

Dari awal film, Arthur diceritakan sudah mengidap Tertawa Patologis ini. Terungkap di tengah film, kalau sebabnya adalah trauma siksaan yang dialaminya di masa kecilnya. Jadi ada syaraf yang kena, berakibat mengidap tawa patologis ini.

Sampai-sampai Arthur selalu membawa kartu kecil berisi keterangan dari dokter kalau dia mengidap penyakit ini. Kartu itu buat dikasihkan Arthur ke orang lain, kalau-kalau dia mendadak tertawa sendiri. 

review film joker 2019
(tribuneindia.com)

Akting Joaquin Phoenix saat tertawa tak terkendali ini bener-bener luar biasa. Bagiamana dia tertawa lepas kontrol, sambil menahan untuk menghentikan tertawanya, sampai agak tersedak menahan tawa, trus berusaha ngasih kartu sambil berusaha ngasih tau ke orang lain kalau ketawanya itu adalah penyakit… penonton yang ngeliat ini jadi ikutan merasa tersiksa kayak Arthur.

Sialnya, Gotham City justru sedang berkembang ke arah yang lebih kacau. Kesejahteraan warganya sudah semakin tidak diperhatikan. Diceritakan Arthur yang rajin berkonsultasi ke dinas kesehatan kota, pasca dia keluar RSJ, justru tempat konsultasi milik pemerintah kota Gotham itu dihentikan pendanaannya.

Muncul dialog penutup yang menyayat antara konsultannya dan Arthur,

“Mereka tidak peduli dengan orang-orang sepertimu. Dan mereka tidak peduli dengan orang-orang sepertiku.” kata si konsultan kesehatan

“Bagaimana dengan obatku?” tanya Arthur lirih.

Imbasnya, obat Arthur habis, mulai munculnya gejala mental illness berikutnya, yaitu

2. Delusi

Halu kalo orang sekarang bilang. Mulai tampak ketika Arthur nonton “Murray Franklin Live Show” di tv rumahnya,  yang jadi acara favorit Arthur dan ibunya. Seiring perkembangan cerita, jadi terkuak ternyata pengidap delusional disorder bukan cuma Arthur, tapi juga orang yang paling disayanginya ini (yang kemudian jadi dibencinya).

Gangguan delusi ini melengkapi dan menembel keseluruhan cerita Joker. Menghadirkan twist-twist yang mengejutkan Arthur (juga penonton), yang melandasi kegilaan puncaknya. Yaitu,

3. Psikopat

Mau gimana lagi?

Dari kecil sudah dianiaya sama pacar ibunya, sampai syarafnya kena tertawa patologis

Mau bersikap baik dan riang seperti orang normal, tapi karena sudah kadung jadi aneh akibat trauma masa kecilnya, malah dibully terus-terusan sama warga Gotham (yang juga semakin “sakit”)

Lalu ibunya memberikan harapan yang melambung tinggi sekaligus merusaknya, karena delusinya

Mau jadi komedian, malah mau dipermalukan di acara telivisi

dan… boom! jadilah Joker

Dari tadi ngomongin Joker saja, bagaimana tokoh lainnya?

Yes, peran-peran pembantu di film Joker secara teguh dan kuat mendukung transformasi kejiwaan Arthur Fleck.

Tidak banyak sebetulnya pemeran pembantu di film ini, selain para demonstran yang bejibun tentunya… eh, itu pemain figuran ding.

Dua saja saya ceritakan, karena ternyata sudah panjang nian tulisan ini.

1. Keluarga Wyne

tentunya

Hei, ini film villain-nya Batman, yekan. Mosok ndak ditampakkan Wyne-nya acan. Justru secara takdir mereka berkelindan di film ini. Walau di sini, si Bruce Wyne yang mbesok gedenya jadi Batman, masih imut.

Bapak-ibu Bruce mati gegara imbas kerusuhan kota yang dipicu sama Joker. Arthur jadi Joker pun sedikit banyak karena sikapnya Thomas Wyne (bapaknya Bruce).

Jadi gini, selama ini kita kan liat sosok Thomas Wyne dari sudut pandang anaknya yang sampai kematian kedua orangtuanya, si Bruce masih kecil. Dibumbui cerita-cerita orang-orang yang bekerja sama ayahnya, jadinya ya sosok si Ayah Thomas Wyne terlihat putih bersih.

Tapi di film ini kan beda. Di sini yang melihat sosok Thomas Wyne kan Arthur yang rakyat jelata. Jadi ya, si Thomas ini terlihat sebagai sosok aristokrat, sama kayak orang kaya lainnya di Gotham, berambisi meraih kekuasaan sebagai Walikota Gotham, dan ga segan-segan mukul Arthur… dengan alasan karena si Arthur sudah berani-berani pegang anaknya.

Nah trus, ternyata ketiga orang yang jadi korban pembunuhan pertamanya Arthur di kereta itu kerja di perusahaannya Thomas Wyne. Waktu Thomas diwawancarai di tv, dia memuji-muji ketiga karyawannya yang dibunuh itu. Begitu si pewawancara bilang kalau ciri-ciri pembunuhnya memakai topeng badut, Thomas berkomentar bahwa memang warga Gotham City ini badut-badut semua.

Wuah, langsung dong warga Gotham , yang selama ini hidup di tengah gap lebar si kaya dan si miskin, ga terima dibilang badut. Warga Gotham mulai berdemo karena pernyataan menyakitkan Thomas Wyne ini.

Engg… saya sudah bilang kan, kalo itu di Gotham City bukan di sini? … berasa familier soalnya 

2. Murray Franklin

Diperankan oleh Robert de Niro yang punya gaya khas kayak gitu, memang sangat pas memerankan Murray Franklin dengan variety show-nya .  Dengan gaya nyinyir-nyinyir gitu sebagai “King of Comedy”, Murray memang selalu memancing tawa dengan mentertawakan penderitaan orang lain.

Ini yang kemudian disadari Arthur setelah sebelumnya sempet euforia, seneng banget karena beneran terwujud imajinasinya diundang ke acara Murray Franklin. Arthur kemudian datang dan merasakan sendiri bahwa dia diundang untuk diolok-olok.

Puncaknya, Arthur yang sudah minta Murray untuk mengenalkan dirinya sebagai Joker untuk pertama kali, melalukan aksi klimaks yang jadi pemicu kerusuhan massal di Gotham City.

Joker dianggap dewa bagi para anarkis yang menganggap aksinya di televisi sebagai kebenaran yang hakiki, melawan ketidakadilan dunia ini.

Film Joker berhenti di sini. Joker baru sebatas sebagai inspirator para anarkis, belum sampai jadi sang mastermind kejahatan Gotham City.

Kabarnya sih ga ada skuelnya. Tapi seperti “Batman Begin”-nya Cristopher Nolan dulu yang rencana ga ada sekuelnya, karena antusias penonton malah jadi trilogi. Sukurlah jadi trilogi “Dark Knight”, karena disekuelnya muncul tokoh legendaris Joker-nya Heath Ledger…. jadi kalau lihat gegap gempita tanggapan Joker 2019 di mana-mana… who knows?

Apalagi debut premierenya di “Venice Film Festival”, Joker dapat standing ovation selama 8 menit. Sungguh niat sangat… yang ngitungi waktunya sampai ketemu 8 menit, kenapa ga digenepin 10 menit aja bilangnya 😀

Fhiuh…baru ngomongi kejiwaannya si Joker saja sudah sepanjang ini… #pijet2jempol

Sinematografi dan Scoring Joker

Padahal soal sinematografinya juga tidak kalah wow-nya.

CMIIW, kayaknya lho ya, mulai dari triloginya “The Dark Knight”-nya Nolan, Gotham City digambarkan secara riil. Nggak lagi kota antah berantah bersetting unreal bernama Gotham. Pun demikian seterusnya di film-film Batman di DCUniverse, sampai Joker kali ini.

Tahun 1981, bergerak ke arah chaos, Gotham digambarkan riil, kusam, kena masalah sampah dimana-mana, kelabu, dan cuma sekali saja scene di rumah orang kaya. Yaitu dirumahnya Thomas Wyne, itupun dari luar pagar rumahnya saja. Selebihnya di lingkungan rakyat jelata kota Gotham.

Cukup mendukung untuk ikut merasa frustasi sebagai warga Gotham.

Dukungan terakhir adalah dari Scoring Musiknya

Arrghh… dengerin sayatan solo cello-nya mbak Hildur Guðnadóttir (jangan tanya bacanya gimana yak, nulis namanya aja copas), bikin pengen jedotin kepala ke dada mabak-mbak sebelahku tapi nggak boleh..  bikin frustasi!

pelan, kelam, dan menyayat hati… bener-bener cocok untuk film G30S/PKI deh… eh Joker

Tapi bikin rela berlama-lama ga langsung keluar bioskop buat sekedar mendengar scoring-nya. Nih contohnya:

Satu lagi yang ikonik dari film ini adalah tariannya si Joker.  Masalahe, setiap hari kalau lagi di rumah sendiri bikin kopi, saya bikinnya sambil nari-nari kayak Joker gitu e

duh, ntar… nyetater motor pergi ke psikiater 

Jadi kesimpulan film Joker 2019 ini:

1. Ini bukan filmnya Batman

2. Todd Phillips berhasil menyajikan secara eksklusif bagaimana perjalanan kejiwaan rapuh Arthur Fleck menjadi seorang psikopat Joker, yang diperankan secara totalitas dan brilian oleh Joaquin Phoenix (semoga habis ini jangan bunuh diri atau over dosis, ya Joaquin)

3. Sinematografi dan scoring musiknya simpel tapi sangat mendukung penonton untuk ikut “tersayat-sayat” sepanjang film

4. Sudah tercium aroma-aroma Oscar di film ini, nih

5. Film ini berating “R”, jadi sekali lagi, plis… jangan bawa anak-anak ikut nonton Joker

Nilai : 9.5/10

kurang 0.5-nya buat Joker yang bikin saya menulis sepanjang ini… haseum Todd Phillips & Joaquin Phoenix ! 😆

One thought on “Menari Bersama Kegilaan Joker – Part 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.