Parenting Masalah Anak dengan Gadget dan Game

Tulisan panjang ini ditulis setelah mengalami dan mengamati serangkaian pengalaman dan curhatan orang-orang tua yang segenerasi tentang anaknya dan gawai-nya (untuk film, anime, dan game online), yang dianggapnya sudah terlalu berlebihan.

Pernah beberapa kali waktu ke sekolah, mengalami orang tua yang dimarah-marahi wali kelas karena anaknya yang diduga keras terlalu banyak main game. Kemudian masih di lingkungan sekolah tersebut, ganti ornag tuanya yang marah-marah ke anaknya karena kebanyakan main game.

Ada juga yang kemudian teman membatasi dengan ketat penggunaan gawai dirumahnya. Karena hasil pemeriksaan dokter, disimpulkan anaknya sudah termasuk kategori kecanduan gawai.

Mau bagaimana lagi? Memang sudah jamannya. Bagaimanapun juga, anak-anak yang dilahirkan di jaman ini (generasi Z), memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibanding anak-anak generasi millineal atau sebelumnya.

Anak-anak di rumah pun tetap pegang ponsel, nonton film, Tik-tok-an, Youtube-an, main game, bahkan mabar (main bareng) game sama bapaknya. Karena bapaknya juga suka itu semua. Tapi Alhamdulillah, tidak sampai menimbulkan masalah seperti yang banyak dialami bapak-ibu di luar sana.

Kenapa bisa seperti itu? Inilah yang pengen diceritakan di sini.

Desclaimer : ini adalah cerita pribadi, belum tentu apa yang dilakukan di sini cocok dan dapat diterapkan di keluarga lain. Karena toh tetap ada kompensasi-nya: efeknya (mungkin), anak-anak yang di tulisan ini jadi tidak se-berprestasi putra-putri Bapak-Ibu sekalian… selalu ada harga yang harus dibayar

Baiklah mari kita mulai,

Saat tulisan ini dimuat :

Anak sulung, cowok berumur 13 tahun

Anak bungsu, cewek berumur 8 tahun

Bapaknya, 41 tahun, IT freelancer, kebanyakan di rumah saja

– Ketiga yang disebut di atas, suka main game, bahkan sewaktu kuliah, bapaknya dulu buka usaha game komputer –

Ibuknya, (?) tahun, pegawai asuransi swasta yang sedang kolaps, hobi : marah-marah dan nonton sinetron Ikatan Cinta

Keluarga kecil ini tinggal di desa, di sebuah rumah kecil tapi dengan halaman luas, khas perdesaan

Sampai sekarang kedua anak itu, kecuali ada tugas (PR), tidak pernah belajar rutin seperti lazimnya anak-anak lain. Sukurlah, kalau berdasar rangking kelas sekolah desa (tidak bisa dibandingkan dengan sekolah-sekolah di kota), kedua anak ini berada di kisaran rangking 1 – 3.

—–

Dari awal pernikahan, memang tidak ada pembicaraan soal bagaimana mendidik anak yang ndakik-ndakik. Malah kemudian jalan sendiri-sendiri… euh, yang ini jangan ditiru sih

Skip, skip… anak-anak jadi lebih banyak di rumah sama bapaknya.

Dari awal, bapaknya sadar : jangankan dimarahi, muka bapaknya keliatan serius aja, anak-anak langsung ketakutan. Apalagi si bungsu, anak cewek, sampai kelas 2 SD ini, kalau ada nada serius dari bapaknya ke dia, dia noleh lihat bapaknya dulu, kalau memang bapaknya serius, dia trus nangis -_-”

Pernah dulu ketika mudik, sambil disuapi bapaknya. Bapaknya kemudian belai-belai rambutnya, sambil berbisik : “Jangan kebanyakan nonton video hantu, mending kalau terus jadi berani, tapi kan nyatanya malah bikin adek jadi penakut, kan?” — karena waktu itu si bungsu disuapi sambil nonton video-video hantu,

Eh, malah nangis

Yangti didepannya yang asyik berkutat sama obat-obatannya sampai kaget, “Lhoh kenapa? lagi anteng-anteng disuapi makan kok tiba-tiba nangis?”

Begitulah,

Menyadari kondisi seperti itu… eh wait, kok nyeremin banget sih si bapak ini -_-”

Pernah nanya ke si sulung,

“Emang bapak galak, mas?”

“Ngg… nggak sih, tapi kadang nyeremin”

Bhaiqlah,

Jadi memang kondisinya seperti ini :

– Ibunya marah-marah selalu, tapi ya anak-anak yang paling sering bandel (ndablek) sama ibunya
– Bapaknya jarang marah, jarang nyuruh-nyuruh, jarang ngelarang, tapi sekali bapaknya nyuruh atau ngelarang, anak-anak langsung patuh

Itulah kenapa si bapak jarang nyuruh atau ngelarang… biar kata-katanya tetap mujarab… #khukhukhu ^_^v

Tapi ajaibnya, secara sopan-santun/adab, anak-anak paling kurang ajar sama bapaknya. Kaki di kepala, kepala di kaki, dan macam-macam kekerasan fisik lainnya, anak-anak hanya berani sama bapaknya… coba sih, kalo berani kurang ajar sama ibunya.. dislepet langsung dah! 😀

Oke kembali ke track… dengan kondisi seperti itu, si bapak selalu mencoba tidak marah-marah, sebagai gantinya, selalu berdiskusi dengan anak-anaknya..

Euh, jangan, jangan dibayangkan seserius diskusinya para aktivis pejuang HAM, yes… Walau seringkali memang bahan diskusinya yang serius-serius, bahkan si sulung sudah sedikit paham prinsip reksadana dan diapun sudah punya reksadana 😀

Wehehehe… sebelum sampai ndakik-ndakik ngobrol tentang prinsip ekonomi dan sampai reksadana, memang ada proses panjang kenapa di usianya 12 tahun, setahun lalu, kita hepi-hepi aja ngobrol reksadana samapai 2 jam! 😀

Sedari anak-anak masih kecil,  alih-alih langsung ngasih tahu kalau 1 + 1 = 2, si bapak lebih memilih mengajak berpikir bareng bagaimana caranya 1 + 1 bisa ketemu 2 hasilnya.

Begitu terus hampir untuk semua masalah. Ketika si anak ditanya dan memberikan pendapat/jawaban yang kurang tepat, si bapak harus bisa memberikan dorongan untuk mencari jawabannya sampai tepat.

Tidak sekedar,

“Yo salah, yang benar 9 x 2 itu 18” … lho, kalo kayak gitu kan sama saja langsung ngasih jawaban ke si anak, ya to

Makanya si bapak mendorong lagi, “Kalo sulit, cari aja yang paling gampang diitungnya… yang gampang kan 10 x 2 = 20, karena 9 sebelum 10, dan ini perkalian 2, tinggal kurangi 2 saja… jadi 20 kurangi 2… berapa?”

Semacam itulah… jadi bapak dan anak sama-sama berpikir, jadi fair. Plus, tugas orang tua lah yang menahan emosi untuk langsung kasih tau hasilnya.

Bahkan si bungsu kelas 2 SD, untuk hitungan-hitungan yang lebih rumit (kemauan dia sendiri yang tiba-tiba trus menghitung harga baju), dia hitung sambil tetap mencongak. Ketika bapaknya, mau kasih clue, si bungsu langsung menghardik,

“Diam dulu!”

“…”

Setelah beberapa lama (karena itungannya memang rumit untuk ukuran anak seumur dia), dia menjawab dengan benar. Entah cara berhitung bagaimana yang dia pakai ya, karena si bapak tidak pernah mematok harus memakai 1 cara. Bebas.

Bahkan pernah 2 anak itu sengaja bapaknya kunci di dalam rumah dan ditinggal bapaknya shalat Jumat… dasar bapak gada akhlak 😀

Tapi ya, tetap saja si bapak ketika di masjid, memikirkan salah satu cara mereka bisa keluar (sambil meyakinkan diri, anak-anak bisa keluar kok). Sepulang dari shalat Jumat, anak-anak sudah keluar rumah… memakai cara berbeda dengan apa yang dipikirkan bapaknya sewaktu di masjid 😀

Demikian seterusnya, untuk masalah apapun… tidak sebatas pelajaran.

Termasuk soal larangan dan perintah ya. Kenapa kita menyuruh ini, kenapa kita melarang itu. Dijelaskan semua sama si bapak. Karena si bapak sadar, yang diperintah atau dilarang ini adalah makhluk-makhluk Gen Z yang didesain dengan 1 pertanyaan besar diotaknya, yaitu : Why?

Menurut pengalaman sendiri, pengalaman ortu lain, dan hasil diskusi dengan teman.. pola semacam pendidikan semacam ini sering terkendala karena :
a. Orang tua yang sibuk selalu

b. Gak sabar => hih, masak 5 + 7 saja tidak tahu, hih!
Bahkan di era belajar online seperti ini, daripada tugas ga dikerjakan, akhirnya orang tua atau guru les yang suruh ngerjain… ya namanya anak Z, sekali ga mau ngerjain tugas terus dikerjakan ortu atau guru les-nya, ya sudah, langsung saja si anak memanfaatkan kondisi ini, yekan

Perlu diingat, kebanyakan, kemampuan orang tua dalam mengikuti pelajaran sekolah jaman sekarang, semakin terbatas. Seperti yang dialami si bapak ini, sudah sangat keteteran sekali mengikuti pelajaran (terutama) Matematika kelas VII… mana IQ si bapak ga jauh-jauh dari IQ jongkok dan tiarap pulak.

Tetapi dengan pembiasaan mencari cara sendiri semenjak kecil, si bapak tinggal bilang, “Wah ini bapak ga tau caranya, mas.. coba cari di internet. Cara nyarinya seperti ini.”

Si bapak pun ngajari gugling

Cukup sampai di situ? O tentu tidak.

Setelah dirasa dan diamati sudah ketemu jawabannya, si bapak nanya lagi, “Sudah ketemu, mas?”

“Sudah” jawab si sulung

“Gimana caranya?”

Lalu mereka berduapun terlibat membahas bareng si soal yang bapaknya sudah tidak “nyandak” itu.

Ketika sudah terbiasa mencari jawaban pelajaran sendiri ini, si sulung kemudian hanya bertanya ke si bapak kalau memang benar-benar kesulitan saja.

Maka, investasi waktu untuk keribetan ngajak anak untuk memecahkan masalahnya, sudah mulai terbayar. Anak sudah mulai tidak terlalu “mengganggu” waktu orang tuanya…

Ada 1 kata yang selalu diulang-ulang si bapak, dan semoga jadi warisan berharga si bapak ke anaknya hingga kelak sudah tidak ada bapak yang menemani lagi, yaitu,

“Pakai otakmu!”

Eh, bukan, ini bukan umpatan yang sering dipakai netijen ketika online.

Ini lebih ke prinsip Judo, “Kaki lebih kuat dari tangan, dan otak lebih kuat dari itu semua”

Ingat, anak tidak beda jauh sama ortunya. Dulu si bapak ini adalah orang yang gampang menyerah, jadi si bapak paham frustasinya si anak kalau tidak ketemu-ketemu jawaban sebuah masalah/soal. Tidak pengen jadi seperti si bapak dulu, si bapak selalu mengulang-ulang kata,

“Yuk jangan menyerah dulu yuk… dihadapanmu ada apa aja / kamu punya apa aja?… dari apa saja yang didepanmu/yang kamu punya itu, trus  pakai otakmu, buat menyelesaikan masalahnya!”  tentu tidak dengan nada marah/keras, karena bisa-bisa anak malah jadi nangis, dan masalah/soal-nya tidak selesai deh.

Halah padahal itu alasan bapaknya ga bisa nyekolahin di kota dan ga mampu bayar guru les saja!

Sayangnya, memang demikian -_-” , makanya hanya investasi waktu penganggurannya si bapak yang bisa diberikan ke si anak :’)

—–

Berdasar kondisi pola pendidikan seperti itu, mari kita beralih ke obrolan masalah anak dan game, atau masalah anak dan gadget.

Kondisi saat ini, anak-anak pegang/punya :

– Si sulung : 1 tablet, 2 ponsel pintar

– Si bungsu : 1 tablet, 1 ponsel pintar

Karena si bapak agak terlalu gadget mania sih emang.

Menariknya, untuk ukuran bapack-bapack yang kerja di bidang IT, kedua anaknya terbilang gaptek dibanding teman-teman sebayanya.

Si bapak sepakat sama pemikirannya bos-bos Google dan Facebook yang tidak mengajarkan IT pada anak-anak kecil mereka. Bahkan si bapak ini waktu itu sengaja nyari PAUD dan TK yang tidak ngajari baca tulis.

Ya karena, sekali lagi, kita berhadapan dengan makhluk-makhluk baru Gen Z. Daya tangkap mereka sungguh warbiyasah. Chipset/SoC mereka sungguh berbeda dengan otak default kita.

Cukup diajari membuka layar gawai saja, ditinggal ngrebus air, air mendidih mereka sudah bisa kemana-mana dengan gawainya.

Anak agak minder pegang gawai? Cukup bilang, “Coba saja, jangan takut salah sama ponselnya.”

Kelar sudah.

Masih kurang bukti?

Si bapak pernah bilang, “Mas, tugasmu adalah mencari cara biar bisa ‘invite/undang‘ bapak buat main Call of Duty Mobile – CODM bareng.”

Trus bapaknya membayangkan, si sulung keluar dari game – buka Google trus nyari “cara invite CODM bareng”…

Eh si sulung langsung bilang dengan kalemnya, “Itu bapak sudah aku invite”

Hahahaha… dasar bapak rikiplik!” batin si bapak 😀

That’s it. Jadi, penguasaan teknologi sudah seharusnya bukan jadi kekuatiran para orang tua terhadap anak-anaknya. Masalahnya, justru mengeremnya, right?

Yaelah ngab, dari tadi juga kan mo ngmongin itu!

Nahitu, si bapak punya pikiran, bagaimana bisa mengerem kalau tidak ikut naik?

Seperti ini yang ada di benak si bapak,

Ibarat kata kita kasih kepercayaan anak belajar mobil pertama kali. Kalau si bapak nunggu dari luar, terus anak ternyata nginjek gas sampai poll, dan si bapak cuma teriak-teriak saja, nyuruh ngerem dari luar mobil, tanpa tau bagaimana kondisi di dalam mobil… yang terjadi adalah kejadian absurd dari sudut pandang manapun ya kan :

  • yang liat, bakal merasa aneh, ini kenapa cuma teriak-teriak muluk
  • yang di dalam mobil, baka merasa aneh, ini kenapa si bapak teriak-teriak muluk, ga kedengeran lagi dari dalam mobil

Berisik tau!

Atau malah sampai segalanya terlambat… boom, bang, crash!

Sekali lagi, si bapak ini berinvestasi waktunya untuk mencoba ikut dalam “satu gerbong” dengan anak-anaknya. Sampai, setidaknya tau apa yang sebenarnya terjadi di dalam gerbong Gen Z ini. Tentunya suatu saat nanti si bapak sudah tidak bisa lagi mengikuti laju gerbong generasi yang melaju sangat cepat ini. Tapi setidaknya, saat itu tiba, di masa ketika si bapak harus turun di stasiun untuk kemudian ditinggal, si bapak berharap investasi-nya setidaknya membuahkan hasil sebagai panduan anak-anaknya yang melaju kencang kelak.

duh kok jadi mewek nulis itu ya  #hiks

Oke, jadi si bapak tidak pernah membatasi kedua anak-nya ketika bermain game di gawai. Si bapak, setelah tau bagaimana itu game, hanya membicarakan apa yang perlu dihindari di game itu (kebanyakan soal pembelian dengan duit nyata untuk item-item eksklusif dari game-nya sendiri), dan bagaimana efek main terlalu lama.

Sudah itu saja. Selanjutnya, mereka sendiri yang memutuskan kapan main game/pegang gawai, kapan berhenti. Tidak ada pembatasan. Bebas.

Hasilnya, mereka belum pernah asyik dengan gawai-nya sampai yang harus dikeluhkan soal durasinya.

Bisa begitu selain karena uraian panjang lebar di atas, rambu-rambunya adalah :

1. Tugas yang utama, main kemudian
Dengan model diskusi, ini sudah jadi kesepakatan bersama bertiga, bapak dan anak-anaknya. Tugas sekolah, tugas njemur baju, shalat, ngaji (tidak ada belajar di sini ya)… kalau sudah waktunya, itu dulu yang dikerjakan, setelah itu terserah.

2. Prinsip Fisika Dasar
Dengan luas penampang yang kecil dan tenaga yang sebesar itu, fitrah anak-anak adalah melenting kemana-mana. Semakin kecil usia anak-nya, semakin aktif pula lentingannya. Ini wajar. Toh makin bertambah usia anak-nya, penampangnya makin besar (tubuh), energi yang dibutuhkan untuk bergerak makin besar, akhirnya anak mulai lebih suka rebahan daripada lari-larian.

Makanya, sampai sekarang selalu tidak habis pikir, dengan teriakan Bapak/Ibu, “Hei nak… jangan lari!”

Lhah… gimana ya bund, anak-anak emang didesain buat lari, jatuh, lari lagi je

Back to Topic, kalau sudah sadar dan terima takdir kalau hukum alam memang seperti itu, sebetulnya dari awal anak-anak jauh lebih suka di luar ruangan daripada cuma nongkrong sambil main Mobile Legend, apalagi sampai harus nyari siapa Impostor-nya.

Sekali lagi, sayangnya, sejak awal, banyak dari bapak-ibu ketika anaknya baru main sebentar di luar sudah disuruh masuk karena panas, kotor dan hujan. Mengabaikan ajakan salah satu sabun cuci untuk “Kotor itu Baik” 😀

Demikianlah, dengan 2 rambu di atas, anak-anak si bapak ini lebih banyak porsinya main di luar dibanding mesra-mesraan dengan gawainya

Bapaknya?

Boro-boro keluar rumah…Kalo ga asik dengan laptopnya, ya rebahan saja sambil ngetik postingan ini dengan pura-pura bijak

Gada kerjaan emang  😀

———–

Demikian sependek yang saya tau dan sepanjang yang saya punya,  untuk urusan parenting anak dengan gawai atau gadget nya.

Tidak pernah menyuruh anak-anak belajar, asal semua didiskusikan hingga paham, si kedua anak masih di koridor rangking 3 besar, walau tidak bisa dibandingkan dengan siswa kota. Kemudian dengan si anak-anak yang paham, fitrah anak-anak yang lebih suka main di luar daripada diam di rumah tidak dikekang… Alhamdulillah tidak ada keluhan anak dengan gawai-nya

Semoga bermanfaat 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.