Pengabdi Setan 2 : Communion, pradna.com – Tuntas sudah penantian selama 3 tahun proses produksi film + 2 tahun tunda tayang karena pandemi. Sejak dari pertama tayang di tahun 2017, sosok “Ibu” di Pengabdi Setan kembali menemui di malam-malam durjana penontonnya.

Iyes, film ini memang sedurjana itu.

warning pengabdi setan 2
Peringatan efek cahaya di Pengabdi Setan 2

Seperti biasa, untuk ulasan film, saya tidak akan menuliskan cerita filmnya. Karena itu sudah banyak sekali yang membahas. Saya seperti biasa, bakal cerita-cerita apa yang saya rasakan saja ketika menonton film ini.

Sejak memulai debut sutradara layar lebarnya di “Janji Joni” (2005), Joko Anwar langsung masuk ke jajaran sutradara papan atas Indonesia, karena kualitas film garapannya. Kemudian sejak filmnya “Kala”, Jokan (panggilan netizen ke Joko Anwar) seperti membangun universe-nya sendiri. Mulai dari “Kala” hingga ke film-film berikutnya, Joko Anwar selalu menaruh beberapa easter egg yang seperti membentuk benang merah di setiap filmnya.

Ini yang kemudian memunculkan beragam teori, dan perdebatan seru dari para penontonnya.

Nahini memang luar biasanya seorang Joko Anwar, karena dia :

Merawat Penonton Pengabdi Setan Universe

Bagi bisnis apapun, “merawat” konsumen memang selalu sangat disarankan. Pun demikian dengan Joko Anwar. Tidak sekedar membuat film, begitu selesai trus ditinggal begitu saja.

Mulai dari proses pra-produksi, produksi, tayang film, hingga film usai tayang pun Jokan selalu berinteraksi dengan para penikmat filmnya. Jadi tidak heran, kalau lokasi rumah susun Pengabdi Setan 2 : Communion ini dapat informasi dari salah satu warga Twitter, ketika dia sudah pusing nyari-nyari lokasi buat set rumah susunnya, yang kemudian dikasih tau ada rusun yang sudah terbengkalai 13 tahun sejak rusun itu dibangun.

Tim Joko pun langsung gercep menghubungi sepasang suami istri yang rela menempuh lebih dari 80 km, naik kapal dari Raja Ampat ke Sorong demi menonton Pengabdi Setan 2. Salah satu tim Jokan langsung menghubungi pasangan tersebut lewat DM, sebelum pasangan itu kembali ke rumahnya yang susah sinyal. Dan sekitar 1 jam, mereka pun ber-video call dengan Joko Anwar dan beberapa cast Pengabdi Setan 2.

Wow!

Selain itu, seperti yang sudah saya tuliskan di atas, easter egg – easter egg yang ditanam di film-film Joko Anwar ini, terus menerus memancing munculnya beragam teori dari penontonnya. Begitu ada film Joko yang baru, muncul lagi “pesan tersembunyi” di film baru itu, yang berujung pada diulasnya hal-hal rahasia di film-film Joko sebelumnya. Yang artinya, film-film Joko tidak akan dilupakan penonton. Akan selalu terus dibahas, yang belum nonton akan selalu mencari film-film Joko Anwar sebelumnya.

Brillian!

Dengan universe Jokan yang seperti itu, tentu saja setiap ada film barunya dia langsung ditunggu oleh jutaan penggemarnya. Terbukti, sejak 5 hari film Pengabdi Setan 2 ditayangkan, sudah langsung tembus 3 juta penonton. Orang-orang langsung menyemangati film ini bisa menyamai atau bahkan mengalahkan film desa dancer, di angka penonton yang memang sulit dikalahkan (10 juta penonton). Artinya (lagi), orang-orang jadi bersemangat untuk mengajak siapa saja untuk menonton film Pengabdi Setan 2 ini, sungguh promosi sukarela yang warbiyasah!

Melihat kesuksesan film-film sebelumnya, dan juga besarnya antusias calon penonton yang menunggu sekuel film pertamanya, Joko mendapat keleluasaan dana dibanding film-film sebelumnya. Dan digunakan dengan optimal oleh sang sutradara.

Departemen fotografi, departemen produksi, departemen suara, dan yang lainnya, bekerja dengan luar biasa. Bagaimana rusun yang terbengkalai 13 tahun, yang aslinya berada di pemukiman padat penduduk, di film ini menjadi rusun yang baru berdiri sendirian, tanpa tetangga. Kemudian setting tahun 1950an dan 1980an yang detil (termasuk bus tingkatnya). Belum lagi, kalau kata netizen, hilangnya kenangan indah Boscha di film Sherina, terhapus dengan beberapa menit adegan di Pengabdi Setan 2 ini… sanapabich! :-))

Dan tentu saja, juaranya adalah departemen suara yang membuat film Pengabdi Setan 2 : Communion ini, sangat meresahkan di sepanjang filmnya.

Oya, ada 2 hal di film ini yang bikin menontonnya itu tidak tenang. Gelisah sepanjang film. Yaitu :

1. Lighting

Joko Anwar kembali menggunakan technical lighting di filmnya kali ini. Artinya, film ini mengandalkan cahaya sesuai dengan jalan ceritanya. Jadi, kalau ceritanya sedang mati listrik, dan tokohnya cuma menyalakan korek api, maka itulah satu-satunya penerangan di filmnya.

Ini jelas menimbulkan perasaan tidak nyaman. Penonton benar-benar diajak merasakan suasana mencekam ketika semuanya gelap, kecuali apa yang bisa dijangkau cahaya korek api, lilin, kilatan petir, dan senter saja. Was-was dan menduga-duga kapan dan apa yang akan muncul dari kegelapan.

2. Sound

Hal durjana berikutnya dari film ini adalah, tata suaranya. Sebetulnya dari awal film, penonton sudah ditunjukkan kalau setannya tuh si sugus. Penonton sudah sudah siap mental. Tapi ternyata, secara mind-blowing, sang sutradara memberikan elemen horor lain yang tidak disangka, yaitu melalui tata suara filmnya.

Bisa dibayangkan, suasana gelap / remang-remang mencekam, kemudian dikepung dengan tata suara yang meresahkan. Maka, tidak mengherankan jika di video reaksi penonton Pengabdi Setan 2 yang direkam saat menonton, banyak yang justru menutup telinga… bukan mata!

Kenapa tata suaranya bisa semeresahkan ini, terjawab oleh pernyataan Aghi Narottama, Music Director film ini :

sound pengabdi setan 2
Tata suara Pengabdi Setan 2 menurut Sound Directornya

 

Kesimpulan setelah nonton Pengabdi Setan 2 : Communion

Secara keseluruhan, Pengabdi Setan 2 : Communion sangat layak ditonton. Bahkan bisa ditonton beberapa kali untuk menemukan detil-detil yang mungkin saja terlewat, seperti kalau nonton film-film Joko Anwar lainnya, yang memang tidak cukup ditonton sekali saja. Film ini juga seperti membawa standar perfilman tanah air naik level lagi.

Hanya saja, kalau Pengabdi Setan (PS) 1 saya kasih nilai 9/10 ; Perempuan Tanah Jahanam (PTJ), juga 9/10 ; sayangnya di Pengabdi Setan (PS) 2 ini dengan berat hati saya cuma bisa menilai 8.5/10 .

Tentu berkurangnya poin ini, karena Joko masih belum sembuh dari masalah ending-ending filmnya yang nyaris tidak pernah mulus (kecuali di “Pintu Terlarang”). Poin kurang lainnya, seperti banyak disebut-sebut netizen, yaitu kedalaman cerita PS 2. Dari segi cerita, memang lebih memikat PS 1 atau PTJ.

Poin kurang lainnya dari PS 2 adalah ada beberapa scene yang terkesan buru-buru, seakan kejar durasi. Kemudian, sekali lagi, ending yang membuat sakit kepala… dalam arti harfiah. Karena efek strobo cahaya (perhatikan warning di awal tulisan) dan resolusi klimaksnya yang sudah, selesai begitu saja.

Terlepas dari itu… tentu saja saya pengen nonton lagi!

(dan berharap seri 3-nya tidak terlalu lama rilisnya)

Skor

Pengabdi Setan 2 : Communion : 8.5/10