Review Sri Asih superhero perempuan Indonesia pertamapradna.com – Banyak yang meragukan kualitas Sri Asih, mengingat film sebelumnya, Gundala yang tidak sesuai ekspektasi. Ditambah lagi film Satria Dewa : Gatotkaca yang mengecewakan. Membuat banyak orang meragukan film superhero perempuan Indonesia ini.

review sri asih tayang di bioskop
Tiket Sri Asih yang sedang tayang di bioskop

Kalau buat saya pribadi, sudah dibuat takjub sejak Gundala yang saya tonton 2 kali di bioskop. Tentu saja Gundala masih membawa kekurangan-kekurangan khas Joko Anwar yang suka jumping scene dan penyelesaian yang seperti “maksa” harus selesai demi durasi. Tapi bagaimanapun juga, film garapan Joko Anwar ini tetap di atas rata-rata. Ini yang kemudian menarik perhatian publik, bahwa film superhero Indonesia sudah memasuki standar baru.

Mungkin saja karena alasan sentimentil jagoan masa kecil saya yang bikin saya langsung memuja Bumilangit Cinematic Universe. Hanya saja, bisakah dibayangkan perasaan seorang anak yang dulu hanya bisa membaca tokoh-tokoh superhero Indonesia di komik dengan kualitas seadanya di jaman itu. Sisanya hanya bisa dilanjutkan di imajinasi saja, untuk kemudian terlupakan, tergerus dengan banjir tokoh-tokoh jagoan dari negeri luar. Dan kemudian, memori yang terlupakan itu kembali hadir di depan mata dengan tampilan visual yang jauh lebih indah dibanding imajinasi masa kecil?

Anak kecil (yang tak lagi kecil) itu pun langsung terpana begitu menyaksikan Gundala di layar lebar.

Filmnya banyak kekurangan?

… hey, jika saja Anda pernah membaca komik aslinya jaman dulu, dan cukup bisa membuat anak-anak waktu itu membayangkan menjadi superhero yang barusan dibacanya…sungguh kurang-kurang dalam film Gundala akan tertutup dengan rasa syukur masih diberi waktu untuk menonton jagoan masa kecilnya yang disajikan dengan luar biasa!

Bicara apa yang ada di Film Sri Asih

Demikian pembelaan saya kepada Gundala (walo sayalah yang harusnya dibela Gundala -_- ) dan mari kita move on ke superhero perempuan Indonesia, Sri Asih.

Sebelum lanjut, baru tau saya kalo ternyata Sri Asih itu karya R.A. Kosasih. Sebagai informasi.. pamer sih.. bahkan sejak belum bisa baca, saya mengikuti komik-komik pewayangan beliau. Bahkan sekarang pun masih koleksi serial Mahabarata dan Ramayana karya R.A. Kosasih. Dan ternyata Sri Asih lahir di tangan beliau juga… benar-benar Bapak Komik Indonesia!

Oke lanjut.

Dari banyak aspek, Sri Asih mengalami peningkatan dari film Gundala. Singkat kata, Sri Asih lebih bagus dari Gundala.

UPI Sang Sutradara Perempuan Super

Superhero perempuan memang cocoknya disutradarai oleh perempuan. Upi sang sutradara, memang paling pas menahkodai film Sri Asih. Upi tau bagaimana seorang superhero perempuan bisa tampil garang, bak bik buk, das des sat set… tapi tetap terlihat cantik 😀

Walau kadang cantiknya kelewatan, begitu selesai berantem habis-habisan dengan musuh terakhirnya, Pevita Pearce pemeran Sri Asih tetap terlihat mempesona dengan lipstik , make up, rambut, yang tetap terjaga kerapiannya… dengan sedikit goresan-goresan lecet saja :))

Pevita Pearce sebagai Alana sang Sri Asih

Pevita Pearce memang jadi juaranya. Pev, panggilannya, di sini berperan sebagai Alana sekaligus Sri Asih generasi ketiga. Sri Asih yang merupakan titisan Dewi Asih, di film ini adalah titisan ketiga. Pertama adalah Nani Wijaya (yang secara mengejutkan diperankan oleh Najwa Sihab), Rengganis, dan Alana (diperankan Pevita Pearce).

Sebagai aktris yang biasa berperan di film-film drama, Pev benar-benar menunjukkan totalitasnya buat melatih fisiknya. Perempuan kelahiran 1992 ini juga secara intens belajar bela diri di bawah supervisi aktor laga Iko Uwais dan tim. Bahkan, kalau melihat proses syutingnya, tidak jarang artis yang memulai debutnya di “Denias, Senandung di Atas Awan” (2006) ini, seringkali harus berdarah-darah saat memerankan adegan laga di film ini.

Iko Uwais dan Tim Koreografi Laga

Koreografer aksi dan bela diri di Sri Asih dipercayakan pada Iko Uwais dan tim… dan hasilnya bagus banget! Adegan-adegan berantemnya benar-benar seru khas pencak silat Indonesia. Memang Iko Uwais, Yayan Ruhian, atau Cecep Arif Rahman, kalau diminta buat koreo adegan silat, mereka punya ciri khas silatnya sendiri-sendiri. Di Sri Asih ini pun, terlihat khas silatnya Iko Uwais dengan pertarungan jarak sangat dekatnya… bayangkan saja gerakan Wing Chung dalam versi silat, seperti itu lah khas silatnya Iko Uwais 😀

Surya Saputra sebagai Prayogo sang Bos Mafia

Upi sang Sutradara Serigala Terakhir, Realita Cinta dan Rock n Roll ini, memang sudah khatam kalau urusan bagaimana menampilkan adegan-adegan premanisme atau keluarga mafia. Keputusan Upi memilih Surya Saputra sebagai bos besar cukup tepat. Kharisma aktor senior ini sebagai pentolan mafia cukup intimidatif….

“cukup”nya sampai 2x ya, wa

Ya karena sebetulnya Surya Saputra di sini sudah keren banget, tapiii… entah kenapa, aku kok merasa suaranya terlalu dibuat-buat ya 🙁

Reza Rahardian sebagai Polisi tertindas yang memelas tapi..

Percayalah, sebosan apapun Anda dengan Reza Rahardian, faktanya akting orang ini memang top class. Perannya sebagai Jatmiko di sini, benar-benar meyakinkan sekali sebagai polisi jujur tapi depresif. Karena Jatmiko sosok polisi yang pengen jadi idealis, tapi justru tugasnya hanya sebagai suruhan Prayogo si bos mafia (yang diperankan Surya Saputra).

Detil mikro ekspresinya ketika dia harus menahan amarah ketika ditindas keadaan, itu keren banget. Ditambah ekspresi lesunya Jatmiko, bikin terasa sekali tekanan hidupnya. Polisi miskin, idealis, tapi ironisnya ditugaskan sebagai kacung bos mafia oleh atasannya yang korup. Apalagi adegan ketika Jatmiko pulang ke rumah susun, dan dapat perlakuan tidak mengenakkan dari tetangganya, hanya karena dianggapnya semua polisi itu korup… padahal kan… sebagian teks hilang

Akting Reza sebagai Jatmiko, dengan mudah meraih simpati pentonton untuk berpihak kepadanya.. sampai akhir film yang mencengangkan.

Review Film Sri Asih

Poster Tayang Bioskop Sri Asih
Poster Tayang Bioskop Sri Asih (sumber : Wikipedia)

Secara keseluruhan, Sri Asih lebih bagus dari Gundala… yang artinya, Sri Asih jadi film adisatria (baru tau istilah Indonesianya superhero nih) Indonesia terbaik saat ini. Tapi belum bisa jadi film yang terbaik ya..

Eh, gimana sih..

Ulang, ulang… Sri Asih memang lebih baik dari Gundala, tapi belum berarti ini film terbaik, ya. Memang masih ada kekurangan di sana-sini. Hanya saja, kalau saya pribadi, justru bukan CGI-nya yang mengganggu. Kalau cgi-nya, palingan yang saya notice itu cuma remukan puing-puing bangunan yang hanya kurang halus dikit aja. Selebihnya, masih bisa dinikmati. Apalagi di pertarungan akhirnya, money shot banget. Kayaknya seluruh budget cgi-nya buat jor-joran di final battle-nya deh.. dan itu worth it banget!

Yang terasa sedikit mengganggu di Sri Asih malah di bagian penceritaan dan editingnya. Beberapa scene terasa jumping seperti di Gundala. Berasa seperti dipotong dengan kasar demi tenggat durasi. Juga ada adegan yang sedikit maksa diadakan. Seperti saat Alana (Pevita Pearce) secara random, mendatangi sebuah rumah susun dan jadi tidak sengaja ketemu Tangguh, deh -_-”

Ngomong-ngomong soal rumah susun, mentang-mentang ada campur tangan Joko Anwar di sini, di Sri Asih jadi ada rumah susunnya juga… apakah Jokan punya usaha rumah susun? :))

Ada beberapa adegan yang tidak perlu dimunculkan. Seperti adegan gala dinner si bos mafia, yang kalau dihilangkan juga tidak berpengaruh. Sebaliknya, beberapa adegan yang perlu ditampilkan malah tidak ada.

Yaa… sebutlah memang sih Alana sudah dilatih intens tarung MMA, juga manusia titisan Dewi Asih… namun justru sebagai manusia itulah, saya sebagai penonton, berharap ada sedikit adegan penyesuaian Alana begitu dapat kekuatan adikodrati dari Dewi Asih. Ada sedikit adegan buat Alana dengan kuatan barunya gitu, yang sayangnya tidak ada. Tiba-tiba sudah merasa nyaman dan sat set begitu saja.

Bicara soal adikodrati, adegan ketika Alana bertemu dengan Dewi Asih (diperankan oleh Zaenab… eh, Maudy Koesnaedi) dan scene Alana melihat Dewi Api. Sebagai raja terakhir villain yang paling powerful, pastilah tidak ada yang lebih tepat buat memerankan Dewi Api, selain dan tidak bukan adalah the one only : dedek Dian Sastro! … wohohoho #nodebat !

Selain minus-minus minor itu, Sri Asih adalah film solid yang jelas menaikkan standar film superhero Indonesia. Ceritanya fokus, sinematografinya memanjakan mata, action dan efek cgi seru untuk dinikmati. Sungguh kita bisa berharap banyak pada Bumilangit Cinematic Universe (BCU) kedepannya… semoga -_-

Karena sejak pertama tayang 17 November 2022, hingga tulisan ini tayang, baru mendapat 500 ribuan penonton 🙁

Memang kalau dicari-cari kenapa-nya, bakal ketemu banyak faktor yang membuat film Sri Asih belum sedigdaya Gundala yang pamit di angka 1,699 juta penonton. Diantara yang paling banyak disebut adalah, diambilnya keputusan berat untuk memundurkan 1 bulan jadwal tayang film ini, yang kemudian disebut-sebut membuat Sri Asih kehilangan momentum hype-nya.

Sebuah keputusan berat memang, hanya saja perlu dilakukan untuk merapikan efek cgi dan juga memuluskan color gradingnya. Tidak tanggung-tanggung, itu semua dikerjakan di studio efek dan color di Thailand sana.

Kemudian begitu dapat jadwal tayang, malah harus head to head dengan superhero yang juga sudah lama dinanti : Black Panther : Indo… euh, Wakanda Forever !

Yah… mau bagaimana lagi. Hanya bisa bantu mengabarkan ada film superhero keren, Sri Asih dan turut berdoa, semoga 20 M budget produksi Sri Asih bisa kembali. Jadi, para pendana tetap semangat melanjutkan film-film dari BCU. Karena, melihat jagoan-jagoan tampil keren di layar lebar itu sungguh impian sejak kecil. Mid credit scene yang men-tease film jagoan berikutnya aja sudah bikin bersorak seluruh studio 😀

Long live adisatria Indonesia!

Nilai Film Sri Asih : 8.5 / 10